BAB VIII
Pengendalian perusahaan tidak lagi dapat dilakukan
hanya berdasarkan intuisi atau pengalaman saja, namun pengetahuan menjadi
faktor penting lain yang perlu dipadukan. Maka dalam kondisi resesi seperti
yang kita hadapi saat ini, tugas manajemen dalam mengendalikan perusahaan
menjadi lebih berat lagi. Untuk mencapai tujuan perusahaan, dibutuhkan
koordinasi yang baik dari semua fungsi manajemen.
Pada dasarnya semua fungsi tersebut sama pentingnya
sebagai suatu sistem, namun pemasaran merupakan fungsi yang mempunyai
intensitas hubungan paling besar dengan lingkungan eksternal, padahal justru
dalam lingkungan itulah perusahaan mempunyai keterbatasan yang paling besar
dalam pengendaliannya. Maka seringkali dikatakan bahwa pemasaran merupakan urat
nadi perusahaan, dalam arti sangat kritis kedudukannya dalam menentukan
kelangsungan hidup perusahaan, dan berperan penting dalam pengembangan
strategi.
Strategi pemasaran sendiri dapat dibahas secara
lebih rinci dikaitkan dengan berbagai unsur, seperti dalam kaitannya dengan
kepuasan pelanggan, dengan pasar, dengan bauran pemasaran, dengan siklus, hidup
produk, ataupun dengan pemasaran internasional. Tulisan ini akan membahas
secara spesifik konteks strategi pemasaran dalam kaitannya dengan penetapan
harga (pricing strategy), dengan menekankan pada salah satu model penetapan
harga. Selama periode di mana pertumbuhan ekonomi dan pendapatan meningkat,
faktor non-harga sempat menjadi kunci keberhasilan penjualan. Namun dalam tahun-tahun
terakhir, seiring dengan perubahan makro ekonomi yang mengakibatkan inflasi,
pertumbuhan penduduk yang semakin lambat, dan semakin maraknya kompetisi, maka
faktor harga menjadi salah satu problem utama yang harus dihadapi para
marketer.
STRATEGI PENETAPAN HARGA
Harga merupakan elemen penting dalam strategi
pemasaran dan harus senantiasa dilihat dalam hubungannya dengan strategi
pemasaran. Harga berinteraksi dengan seluruh elemen lainnya dalam bauran
pemasaran untuk menentukan efektivitas dari setiap elemen dan keseluruhan
elemen. Tujuan yang menuntun strategi penetapan harga haruslah merupakan bagian
dari tujuan yang menuntun strategi pemasaran secara keseluruhan. Oleh karena
itu tidaklah benar bila harga dipandang sebagai elemen yang mandiri dari bauran
pemasaran, karena harga itu sendiri adalah elemen sentral dalam bauran
pemasaran.
Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran
yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan. Dari sudut pandang
pemasaran, harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang
dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikian atas
penggunaan suatu barang atau jasa.
Pengertian
ini sejalan dengan konsep pertukaran (exchange) dalam pemasaran. Harga
merupakan komponen yang berpengaruh langsung terhadap laba perusahaan. Tingkat
harga yang ditetapkan mempengaruhi kuantitas barang yang dijual. Selain itu
secara tidak langsung harga juga mempengaruhi biaya, karena kuantitas yang
terjual berpengaruh pada biaya yang ditimbulkan dalam kaitannya dengan
efisiensi produksi. Oleh karena itu penetapan harga mempengaruhi pendapatan
total dan biaya total, maka keputusan dan strategi penetapan harga memegang
peranan penting dalam setiap perusahaan. Sementara itu dari sudut pandang konsumen,
harga seringkali digunakan sebagai indikator nilai bilamana harga tersebut
dihubungkan dengan manfaat yang dirasakan atas suatu barang atau jasa. Nilai
(value) dapat didefinisikan sebagai rasio antara manfaat yang dirasakan dengan
harga. Dengan demikian pada tingkat harga tertentu, bila manfaat yang dirasakan
konsumen meningkat, maka nilainya akan meningkat pula. Seringkali pula dalam
penentuan nilai suatu barang atau jasa, konsumen membandingkan kemampuan suatu
barang atau jasa dalam memenuhi kebutuhannya dengan kemampuan barang atau jasa
substitusi.
Harga memiliki dua peranan utama dalam proses
pengambilan keputusan para pembeli, yaitu peranan alokasi dan peranan
informasi. Peranan alokasi dari harga adalah fungsi harga dalam membantu para
pembeli untuk memutuskan cara memperoleh manfaat atau utilitas tertinggi yang
diharapkan berdasarkan kekuatan membelinya. Dengan demikian adanya harga dapat
membantu para pembeli untuk memutuskan cara mengalokasikan kekuatan membelinya
pada berbagai jenis barang dan jasa. Pembeli membandingkan harga dari berbagai
alternatif yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi dana yang dikehendaki.
Peranan informasi dari harga adalah fungsi harga dalam “mendidik” konsumen
mengenai faktor produk, misalnya kualitas. Hal ini terutama bermanfaat dalam
situasi di mana pembeli mengalami kesulitan untuk menilai faktor produk atau
manfaatnya secara objektif. Persepsi yang sering berlaku adalah bahwa harga
yang mahal mencerminkan kualitas yang tinggi.
Tujuan Penetapan Harga
Pada
dasarnya ada empat jenis tujuan penetapan harga, yaitu :
1. Tujuan Berorientasi pada
Laba Asumsi teori ekonomi klasik menyatakan bahwa setiap perusahaan selalu
memilih harga yang dapat menghasilkan laba paling tinggi. Tujuan ini dikenal
dengan istilah maksimisasi laba. Dalam era persaingan global, kondisi yang
dihadapi semakin kompleks dan semakin banyak variabel yang berpengaruh terhadap
daya saing setiap perusahaan, sehingga tidak mungkin suatu perusahaan dapat
mengetahui secara pasti tingkat harga yang dapat menghasilkan laba maksimum.
Oleh karena itu ada pula perusahaan yang menggunakan pendekatan target laba,
yakni tingkat laba yang sesuai atau pantas sebagai sasaran laba. Ada dua jenis
target laba yang biasa digunakan, yaitu target marjin dan target ROI (Return On
Investment)
2. Tujuan Berorientasi pada
Volume Selain tujuan berorientasi pada laba, ada pula perusahaan yang
menetapkan harganya berdasarkan tujuan yang berorientasi pada volume tertentu
atau yang biasa dikenal dengan istilah volume pricing objective. Harga
ditetapkan sedemikian rupa agar dapat mencapai target volume penjualan atau
pangsa pasar. Tujuan ini banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan
penerbagan.
3. Tujuan Berorientasi pada
Citra Citra (image) suatu perusahaan dapat dibentuk melalui strategi penetapan
harga. Perusahaan dapat menetapkan harga tinggi untuk membentuk atau
mempertahankan citra prestisius. Sementara itu harga rendah dapat digunakan
untuk membentuk citra nilai tertentu (image of value), misalnya dengan
memberikan jaminan bahwa harganya merupakan harga yang terendah di suatu
wilayah tertentu. Pada hakekatnya baik penetapan harga tinggi maupun rendah
bertujuan untuk meningkatkan persepsi konsumen terhadap keseluruhan bauran produk
yang ditawarkan perusahaan.
4. Tujuan Stabilisasi Harga
Dalam pasar yang konsumennya sangat sensitif terhadap harga, bila suatu
perusahaan menurunkan harganya, maka para pesaingnya harus menurunkan pula
harga mereka. Kondisi seperti ini yang mendasari terbentuknya tujuan
stabilisasi harga dalam industri-industri tertentu (misalnya minyak bumi).
Tujuan stabilisasi dilakukan dengan jalan menetapkan harga untuk mempertahankan
hubungan yang stabil antara harga suatu perusahaan dan harga pemimpin industri
(industry leader).
Harga dapat pula ditetapkan dengan tujuan mencegah
masuknya pesaing, mempertahankan loyalitas pelanggan, mendukung penjualan
ulang, atau menghindari campur tangan pemerintah. Tujuan-tujuan penetapan harga
di atas memiliki implikasi penting terhadap strategi bersaing perusahaan.
Tujuan yang ditetapkan harus konsisten dengan cara yang ditempuh perusahaan
dalam menetapkan posisi relatifnya dalam persaingan. Misalnya, pemilihan tujuan
laba mengandung makna bahwa perusahaan akan mengabaikan harga para pesaing.
Pilihan
ini dapat diterapkan dalam 3 kondisi, yaitu:
~
tidak ada pesaing
~
perusahaan beroperasi pada kapasitas produksi maksimum
~
harga bukanlah merupakan atribut yang penting bagi pembeli.
Berbeda dengan tujuan laba, pemilihan tujuan volume
dilandaskan pada strategi mengalahkan atau mengatasi persaingan. Sedangkan
tujuan stabilisasi didasarkan pada strategi menghadapi atau memenuhi tuntutan
persaingan. Dalam tujuan volume dan stabilisasi, perusahaan harus dapat menilai
tindakan-tindakan pesaingnya. Dalam tujuan berorientasi pada citra, perusahaan
berusaha menghindari persaingan dengan jalan melakukan diferensiasi produk atau
dengan jalan melayani segmen pasar khusus.
MODEL PENETAPAN HARGA
Kotler dan Armstrong (1994, h. 341) berpendapat
bahwa ada dua faktor utama yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan harga,
yakni faktor internal perusahaan dan faktor lingkungan eksternal. Faktor
internal perusahaan mencakup tujuan pemasaran perusahaan, strategi bauran
pemasaran, biaya, dan organisasi. Sedangkan faktor lingkungan eksternal
meliputi sifat pasar dan permintaan, persaingan, dan unsur-unsur lingkungan
lainnya.
Sejalan dengan teori Kotler dan Armstrong tersebut,
Harper W. Boyd, Jr. dan Orville C. Walker, Jr. (1982) mengajukan suatu model
pengambilan keputusan secara bertahap untuk penetapan harga dengan
mempertimbangkan berbagai faktor internal perusahaan dan lingkungan eksternal.
Mengingat banyaknya faktor yang harus diperhitungkan pada saat penetapan harga,
maka keduanya menyarankan perlunya suatu prosedur sistematis dalam menetapkan
harga, yang dirasakan akan sangat membantu tugas manajemen. Untuk itu mereka
mengajukan suatu moedel proses pengambilan keputusan mengenai penetapan harga,
yang disarankan untuk digunakan terutama pada saat untuk pertamakalinya
keputusan harga akan dilakukan, misalnya saat pengenalan produk baru atau pada
saat akan dilakukannya negosiasi suatu kontrak kerja.
Dalam model tersebut dibahas A) berbagai pengaruh
dan kendala yang perlu diperhitungkan dalam penetapan harga, juga dibuat B)
langkah-langkah proses penetapan harga, termasuk analisa yang rinci mengenai
permintaan pasar, biaya, dan kompetisi. Namun sebagai langkah awal haruslah
ditetapkan terlebih dahulu tujuan penetapan harga yang konsisten dengan usaha
dan strategi pemasaran perusahaan. Pembahasan mengenai yang terakhir ini telah
dilakukan sebelumnya.
A.
Pengaruh dan Kendala
Terdapat banyak cara untuk
menghitung harga, namun cara apapun yang digunakan, satu hal yang tetap harus
diperhitungkan adalah faktor situasional, baik yang bersifat internal maupun
eksternal. Analisis internal lebih menekankan pada penilaian atau identifikasi
kekuatan dan kelemahan dari tiap-tiap divisi dalam upaya untuk mencari
keunggulan-keunggulan yang akan dapat dipakai untuk membedakan diri dari pesaing,
sehingga harus dilakukan melalui kacamata (sudut pandang) kons umen. Analisis eksternal adalah
penilaian terhadap kekuatan yang berada di luar perusahaan, di mana perusahaan
tidak mempunyai pengaruh sama sekali untuk mengendalikannya, sehingga perubahan-perubahan
yang terjadi pada lingkungan ini akan mempengaruhi kinerja semua perusahan
dalam industri tersebut. Lingkungan eksternal mencakup situasi perekonomian
umum, pelanggan, dan pesaing. Cara yang umumnya dilakukan dalam analisis
situasional antara lain adalah analisis produk, analisis pasar, analisis pelanggan,
dan analisis lingkungan.
Semua faktor ini diperkirakan
dapat mempengaruhi atau menjadi kendala dalam usaha mencapai tujuan perusahaan.
Adapun faktor situasional yang dianalisa dalam model penetapan harga ini adalah
:
a) Strategi Perusahaan dan
Strategi Pemasaran Pertanyaan yang mendasar dari strategi perusahaan adalah : ”
Bagaimana kita akan bersaing dalam industri ini?” Jadi strategi perusahaan
terutama memperhatikan pendistribusian sumber daya yang ada pada daerah-daerah
fungsional dan pasar produk dalam upaya untuk memperoleh sustainable advantage
terhadap kompetitornya. Porter (1980) mengemukakan tiga strategi generik, yaitu
diferensiasi, fokus, dan kepemimpinan harga. Strategi pemasaran, yang termasuk
dalam strategi fungsional, umumnya lebih terinci dan mempunyai jangka waktu
yang lebih pendek dibandingkan strategi perusahaan. Tujuan pengembangan
strategi fungsional adalah untuk mengkomunikasi tujuan jangka pendek,
menentukan tindakan-tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan jangka
pendek, dan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pencapaian tujuan
tersebut. Strategi fungsional perlu dikoordinasikan satu sama lain untuk
menghindari terjadinya konflik kepentingan dalam organisasi.
b) Karakteristik Pasar
Sasaran Segmentasi pasar adalah proses membagi pasar menjadi kelompok-kelompok
pelanggan yang berbeda, sedangkan proses memutuskan pasar mana yang akan dituju
disebut target marketing yang menghasilkan target market (pasar sasaran).
Pemahaman terhadap pasar sasaran dibutuhkan untuk mengetahui variabel apa saja
yang mempengaruhi keinginan pelanggan dan menetukan keputusan membelinya. Baik
pada pasar konsumen maupun pada pasar industrial, perlu diketahui apa saja yang
menjadi kebutuhan pelanggan atau benefit yang mereka cari, seberapa jauh
dibutuhkan inovasi dalam memperkenalkan produk tersebut, bagaimana lokasi
geografis dari pasar sasaran, dan apa saja yang menjadi kebiasaan hidup mereka.
c) Karakteristik Produk
Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk
diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi pasar sebagai
pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan. Produk dapat
didefinisikan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan oleh produsen melalui
hasil produksinya. Secara lebih terinci konsep produk total meliputi barang,
kemasan, mereka, label, pelayanan, dan jaminan, yang mempunyai tujuan akhir untuk
mencapai kepuasan pelanggan.
d) Karakteristik Kompetitor
Menurut Porter (1985, h. 4), ada lima kekuatan pokok yang berpengaruh dalam
persaingan suatu industri, yaitu persaingan dalam industri yang bersangkutan,
produk substitusi, pemasok, pelanggan, dan ancaman pendatang baru.
Informasi-informasi yang
dibutuhkan untuk menganalisis karakteristik persaingan yang dihadapi antara
lain meliputi :
a) Jumlah Perusahaan dalam
Industri Bila hanya ada satu perusahaan dalam industri, maka secara teoritis
perusahaan yang bersangkutan bebas menetapkan harganya seberapapun. Akan tetapi
sebaliknya, bila industri terdiri atas banyak perusahaan, maka persaingan harga
akan terjadi. Bila produk yang dihasilkan tidak terdiferensiasi, maka hanya
pemimpin industri yang leluasa menetuka perubahan harga.
b) Ukuran Relatif Setiap
Anggota dalam Industri Bila perusahaan memiliki pangsa pasar yang besar, maka
perusahaan yang bersangkutan dapat memegang inisiatif perubahan harga. Bila
pangsa pasarnya kecil, maka perusahaan tersebut hanya menjadi pengikut.
c) Diferensiasi Produk Bila
perusahaan berpeluang melakukan diferensiasi dalam industrinya, maka perusahaan
tersebut dapat mengendalikan aspek penetapan harganya, bahkan sekalipun
perusahaan itu kecil dan banyak pesaing dalam industri.
d) Kemudahan untuk Memasuki
Industri yang Bersangkutan Bila suatu industri mudah untuk dimasuki, maka
perusahaan yang ada sulit mempengaruhi atau mengendalikan harga. Sedangkan bila
ada hambatan yang masuk ke pasar (barrier to market entry), maka
perusahaan-perusahaan yang sudah ada dalam industri tersebut dapat
mengendalikan harga.
Hambatan masuk
ke pasar dapat berupa persyaratan teknologi
Investasi
modal yang besar, ketidaktersediaan bahan baku pokok/utama, skala ekonomis yang
sudah dicapai perusahaan-perusahaan yang telah ada dan sulit diraih oleh para
pendatang baru, ataupun keahlian dalam pemasaran.
Pengaruh
Lingkungan (tren ekonomi dan pembatasan hukum)
Analisa
ini meliputi faktor kondisi perekonomian yang disebabkan oleh siklus bisnis,
inflasi/deflasi, kebijakan moneter, kebijakan fiskal, neraca pembayaran,
perubahan iklim sosial dan politik, perkembangan teknologi, ataupun perubahan
kebijakan pemerintah.
B.
Langkah-langkah Penetapan
Harga
Tujuan Penetapan Harga
Faktor utama yang menentukan
dalam penetapan harga adalah tujuan pemasaran perusahaan. Tujuan tersebut bisa
berupa maksimisasi laba, mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, meraih
pangsa pasar yang besar, menciptakan kepemimpinan dalam hal kualitas, mengatasi
persaingan, melaksanakan tanggung jawab sosial, dan lain-lain. Masalah tujuan
penetapan harga telah dibahas terdahulu.
Estimasi Permintaan dan Elastisitas
Harga
Setiap perusahaan perlu memahami
sifat pasar dan permintaan yang dihadapinya, apakah termasuk pasar persaingan
sempurna, persaingan monopolistik, oligopoli, atau monopoli. Faktor lain yang
tidak kalah pentingnya adalah elastisitas permintaan, yakni “how responsive
demand will be to a change in price” (Kotler & Armstrong, 1996, h. 350).
Permintaan menentukan batas atas dari rentang harga yang dimungkinkan bagi
suatu produk. Permintaan akan menurun drastis bila harga terlalu tinggi.
Biasanya terjadi hubungan yang terbalik antara harga dan jumlah permintaan,
sehingga kurva permintaan bersifat negatif atau slope menurun. Namun produk
tertentu yang dipandang bergengsi atau produk yang sulit dinilai kualitasnya
secara objektif, bisa menghasilkan kurva permintaan yang positif. Ada pula
pelanggan yang menggunakan harga sebagai indikator dari status atau kualitas
produk tersebut, sehingga terdorong untuk membeli lebih banyak pada saat harga
meningkat.
Biaya dan Hubungannya dengan
Volume Penjualan
Permintaan menentukan batas atas
dari kisaran harga yang layak dan dapat ditawarkan oleh perusahaan atas
produknya, sedangkan biaya menentukan batas bawahnya. Biaya merupakan faktor
yang menentukan harga minimal yang harus ditetapkan agar perusahaan tidak
mengalami kerugian. Harga suatu produk haruslah menutupi biaya untuk produksi
dan pemasaran barang tersebut, paling tidak untuk jangka panjang, sebagaimana
halnya pendapatan yang layak dterima oleh perusahaan atas investasi yang telah
dilakukan dan resiko yang harus ditanggungnya. Ada dua jenis biaya yang umumnya
digunakan di perusahaan, yakni :
ü Biaya tetap (fixed costs)
yang sifatnya tetap untuk jangka pendek, tanpa dipengaruhi oleh volume produksi
atau pendapatan dari penjualan. Tercakup di dalamnya adalah bunga, sewa, gaji
eksekutif, dan departemen fungsional (seperti pembelian dan R & D) yang
dibutuhkan untuk mendukung produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Karena biaya
tetap secara keseluruhan tetap jumlahnya tanpa tergantung pada volumen, maka
biaya tetap per unit produk akan menurun apabila perusahaan memproduksi dan
menjual lebih banyak produk tersebut dalam suatu periode tertentu.
ü Biaya variabel (variable
costs) bervariasi secara keseluruhan terkait dengan taraf produksi, namun biaya
per unit tetap sama tanpa tergantung pada jumlah produksi. Tercakup di dalamnya
adalah biaya bahan baku, kemasan, dan tenaga buruh yang diperlukan untuk memproduksi
setiap unit produk.
Dalam hubungannya dengan volume
penjualan, ada dua hal yang harus diperhitungkan untuk penetapan harga, yakni
skala ekonomis (economies of scale) dan kurva belajar (learning/experience
curve). Dalam jangka pendek, skala ekonomis diperoleh dari penggunaan kapasitas
yang ada secara maksimal, sedangkan dalam jangka panjang perusahaan
mendapatkannya dengan membangun fasilitas yang lebih besar dan lebih efisien.
Kurva belajar menghasilkan penurunan biaya produksi dan biaya pemasaran per
unit sejalan dengan semakin banyaknya pengalaman yang diperoleh. Cara kerja
yang lebih efisien dan akumulasi usaha pemasaran telah dapat dirasakan
hasilnya, yang terkait dengan daur hidup produk.
1) Harga dan Biaya
Kompetitor Guna memperoleh posisi bersaing yang diharapkan untuk suatu produk
atau jasa dalam pasar sasarannya, manajemen harus memperhitungkan biaya dan
harga dari kompetitor. Misalnya, supaya sukses menerapkan strategi harga
rendah, maka manajemen harus yakin bahwa biaya produk memang lebih rendah
daripada biaya pesaing, dan rendahnya biaya tersebut akan tercermin pada harga produk
yang ditawarkan.
2) Metode Penetapan Harga
Secara garis besar metode penetapan harga dapat
dikelompokkan menjadi empat kategori utama, yaitu metode penetapan harga
berbasis permintaan (customer-oriented methods), berbasis biaya (cost-oriented
methods), berbasis laba (profit-oriented methods) dan berbasis persaingan
(competiton-oriented methods).
3) Penyesuaian Struktur
Harga dengan Kondisi Pasar Apabila taraf harga telah ditetapkan berdasarkan
semua pertimbangan di atas, untuk selanjutnya dapat terjadi fleksibilitas
harga, di mana struktur harga divariasikan sesuai dengan permintaan dan biaya
berdasarkan wilayah, segmen pasar, dan lain-lain.
Penyesuaian khusus terhadap harga dpt dilakukan
dalam bentuk diskon, allowance, dan penyesuaian geografis. Di samping semua
faktor di atas, Kotler dan Armstrong (1994) menambahkan satu faktor internal
yang perlu juga dipertimbangkan dalam strategi penetapan harga, yakni
organisasi. Manajemen perlu memutuskan siapa di dalam organisasi yang harus
menetapkan harga. Setiap perusahaan menangani masalah penetapan harga menurut
caranya masing-masing. Pada perusahaan kecil, umumnya harga ditetapkan oleh
manajemen puncak. Pada perusahaan besar, seringkali masalah penetapan harga
ditangani oleh divisi atau manajer suatu lini produk. Dalam pasar industri,
sales people diperkenankan untuk bernegosiasi dengan pelanggannya guna
menetapkan kisaran harga tertentu. Dalam industri di mana penetapan harga
merupakan faktor kunci (misalnya perusahaan minyak, penerbangan luar angkasa),
biasanya setiap perusahaan memiliki departemen penetapan harga tersendiri yang
bertanggung jawab terhadap departemen pemasaran /manajemen puncak. Pihak-pihak
lain yg mempunyai pengaruh terhadap penetapan harga adalah manajer penjualan,
manajer produksi, manajer keuangan, & akuntan.
REFERENSI
http://mycopypast.blogspot.com/2009/11/fungsi-dan-strategi-penetapan-harga.html
Copyright
http://mycopypast.blogspot.com
No comments:
Post a Comment