Tuesday, November 29, 2016

TUGAS SOFTSKILL 3

Mengapa etika profesi akuntansi diperlukan?

Berbicara soal etika, etika merupakan aturan perilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Profesi akuntansi merupakan sebuah profesi yang sudah cukup dikenal masyarakat luas yaitu sebagai bidang pekerjaan yang mempergunakan keahlian di bidang akuntansi, termasuk bidang pekerjaan akuntan publik, akuntan intern yang bekerja pada perusahaan industri, keuangan atau dagang, akuntan yang bekerja di pemerintah, dan akuntan sebagai pendidik. Dalam dunia lembaga akuntansi, ada yang namanya kode etik profesi akuntansi, seorang akuntan profesional harus memiliki Etika Profesi Akuntansi. Di Indonesia, kode etik ini di gawangi oleh organisasi profesi akuntansi, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).
Tujuan dari kode etik profesi akuntansi ini diantaranya adalah:

  • Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi,
  • Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota,
  • Untuk menjunjung tinggi martabat profesi,
  • Untuk meningkatkan mutu profesi,
  • Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi,
  • Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi,
  • Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat,
  • Menentukan baku standar.
Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), meliputi 3 bagian:
  • Prinsip Etika: Memberikan dasar kerangka bagi aturan etika yang mengatur suatu pelaksanaan jasa profesional oleh anggota. Prinsip Etika disahkan oleh kongres serta berlaku untuk seluruh anggotanya.
  • Aturan Etika: Aturan Etika disahkan oleh Rapat Anggota Himpunan dan mengikat hanya kepada anggota Himpunan yang bersangkutan.
  • Interpretasi Aturan Etika: interpretasi yang ditetapkan oleh Badan yang di bentuk oleh Himpunan setelah mendengarkan/memerhatikan tanggapan dari anggota dan juga pihak berkepentingan yang lain. Kemudian digunakan sebagai panduan menerapkan Aturan Etika tanpa bermaksud untuk membatasi lingkup dan juga penerapan nya.
     

 Apa saja prinsip-prinsip etika profesi akuntansi yang diperlukan?

Prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/ kelompok sebagai sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak. Terdapat 8 prinsip dalam sebuah etika profesi akuntansi yaitu:

  • Tanggung Jawab Profesi
Ketika melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang profesional, setiap anggota harus mempertimbangkan moral dan juga profesional di dalam semua kegiatan yang dilakukan.

  • Kepentingan Publik
Setiap anggota harus senantiasa bertindak dalam krangka memberikan pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan yang diberikan publik, serta menunjukkan komitmennya sebagai profesional.

  • Integritas
Untuk meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota wajib memenuhi tanggung jawabnya sebagai profesional dengan tingkat integritas yang setinggi mungkin.

  • Obyektivitas
Setiap anggota berkwajiban untuk menjaga tingkat ke-obyektivitas-nya dan terbebas dari benturan-benturan kepentingan dalam menjalankan tugas kewajiban profesional.

  • Kompetensi dan sifat kehati-hatian profesional
Setiap anggota wajib menjalankan jasa profesional dengan kehati-hatian, kompetensi dan ketekunan juga berkewajiban untuk mempertahankan keterampilan profesional pada tingkatan yang dibutuhkan ini untuk memastikan bahwa klien mendapatkan manfaat dari jasa profesional yang diberikan dengan kompeten berdasar pada perkembangan praktik, legislasi serta teknik yang mutakhir.

  • Kerahasiaan
Anggota harus menghormati kerahasiaan informasi selama melaksanakan jasa profesional. Tidak boleh menggunakan atau mengungkapkan informasi tersebut jika tanpa persetujuan terlebih dahulu kecuali memiliki hak atau kewajiban sebagai profesional atau juga hukum untuk mengungkapkan informasinya.

  • Perilaku Profesional
Tiap anggota wajib untuk berperilaku konsisten dengan reputasi yang baik dan menjauhi kegiatan/tindakan yang bisa mendiskreditkan profesi.

  • Standar Teknis
Anggota harus menjalankan jasa profesional sesuai standar teknis dan standar profesional yang berhubungan/relevan. Setiap anggota wajib untuk melaksanakan penugasan dari klien selama penugasan tersebut tidak berseberangan dengan prinsip integritas dan prinsip objektivitas.

Daftar Pustaka:

TUGAS SOFTSKILL 2

PERSEPSI AKUNTAN PRIA DAN AKUNTAN WANITA TERHADAP ETIKA BISNIS DAN ETIKA PROFESI AKUNTAN



PENDAHULUAN

Perkembangan dunia bisnis mendorong munculnya pelaku bisnis baru yang menimbulkan persaiangan cukup tajam di dalam dunia bisnis. Pelaku bisnis pada umumnya bertujuan memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya agar dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku bisnis dan memperluas jaringan usahanya. Namun terkadang untuk mencapai tujuan itu sering segala upaya dan tindakan dilakukan walaupun pelaku bisnis harus melakukan tindakan-tindakan yang mengabaikan berbagai dimensi moral dan etika dari bisnis.

Meningkatnya persaingan dan perubahan global, profesi akuntan pada saat ini dan masa mendatang menghadapi tantangan yang semakin berat, sehingga dalam menjalankan aktivitasnya seorang akuntan dituntut untuk selalu meningkatkan profesionalismenya. Ada tiga hal utama yang harus dimiliki oleh setiap anggota profesi dalam mewujudkan profesionalisme yaitu keahlian, berpengetahuan dan berkarakter (Ludigdo & Machfoedz, 1999). Karakter merupakan personality seorang profesional, yang dapat diwujudkan dalam sikap dan tindakan etisnya. Sikap dan perilaku etis akuntan akan sangat mempengaruhi posisinya dimasyarakat pemakai jasanya.

Masalah etika berlaku untuk semua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, etika profesi merupakan suatu isu yang selalu menarik tanpa etika profesi akuntan tidak akan ada karena fungsi akuntansi adalah penyedia informasi untuk proses pembuatan keputusan bisnis oleh para pelaku bisnis. Para pelaku bisnis ini diharapkan mempunyai integritas dan kompetensi yang tinggi (Abdullah dan Halim, 2002). Berbagai pelanggaran etika telah banyak terjadi saat ini yang dilakukan oleh akuntan baik di tingkat nasional maupun internasional. Di Indonesia issue ini berkembang seiring dengan terjadinya pelanggaran etika baik yang dilakukan oleh akuntan publik, akuntan intern maupun akuntan pemerintah. Pada tahun 2002 pelanggaran yang melanda perbankan di Indonesia banyak bank-bank yang dinyatakan sehat tanpa syarat oleh akuntan publik atas audit laporan keuangan berdasar standar akuntansi perbankan Indonesia ternyata sebagian besar bank kondisinya tidak sehat (Jaka, 2003). Kasus penyuapan yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) kepada akuntan pemerintah (BPKP) di tahun 2005.

Beberapa penelitian telah menguji secara empiris tentang persepsi etika diantara berbagai kelompok akuntan. Ludigdo (1999) menemukan ada perbedaan persepsi tentang etika yang signifikan diantara berbagai kelompok akuntan. Sedangkan penelitian Sriwahyoeni dan Gudono (2000) menemukan bahwa tidak ada perbedaan antara akuntan pria dan akuntan wanita terhadap etika sebaliknya penelitian Jaka (2003) menemukan adanya perbedaan antara akuntan pria dan akuntan wanita terhadap etika bisnis.

Etika profesi akuntan di Indonesia diatur dalam Kode Etik Akuntan Indonesia. Kode Etik ini mengikat para anggota Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan dapat dipergunakan oleh akuntan lainnya yang bukan atau belum menjadi anggota IAI. Kode Etik adalah norma perilaku yang mengatur hubungan antara akuntan dengan kliennya, antara akuntan dengan sejawat, dan antara profesi dengan masyarakat (Sriwahjoeni, 2000). Terdapat dua sasaran pokok dari kode etik yaitu: pertama kode etik bermaksud melindungi masyarakat dari kemungkinan dirugikan oleh kelalaian baik secara sengaja ataupun tidak sengaja dari kaum profesional. Kedua kode etik juga bertujuan melindungi keluhuran profesi tersebut dari perilaku-perilaku buruk orang-orang tertentu yang mengaku dirinya profesional (Keraf, 1998).

Kode Etik Akuntan Indonesia yang baru tersebut terdiri dari tiga bagian (prosiding kongres VIII, 1998) yaitu:

1. Kode Etik Umum, terdiri dari 8 prinsip etika profesi yang merupakan landasan perilaku etika professional, memberikan kerangka dasar bagi aturan etika, dan mengatur pelaksanaan pemberian jasa professional oleh anggota yang meliputi: tanggungjawab profesi, kepentingan umum, integritas, obyektifitas, kompetensi dan kehati-hatian profesionalnya, kerahasiaan, perilaku professional dan standar teknis

2. Kode Etik Akuntan Kompartemen, kode Etik Akuntan Kompartemen disahkan oleh rapat anggota kompartemen den mengikat seluruh anggota kompartemen yang bersangkutan

3. Interpretasi kode etik akuntan kompartemen, interpretasi ini merupakan panduan penerapan kode etik akuntan kompartemen

4. Pernyataan etika profesi yang berlaku saat itu dapat dipakai sebagai interpretasi dan atau aturan etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk menggantikannya

Hal ini tercermin di dalam rumusan Kode Etik Akuntan Indonesia pasal 1 ayat 2 yang berbunyi: “setiap anggota harus selalu mempertahankan integritas dan oyektifitas dalam melaksanakan tugasnya. Dengan mempertahankan obyetifitas, ia akan bertindak adil tanpa dipengaruhi tekanan/permintaan pihak tertentu/kepentingan pribadinya”.

HIPOTESIS

Khazanchi (1995) mengatakan bahwa antara jenis kelamin dengan etika terdapat hubungan yang signifikan, penemuan ini bertolak belakang dengan Sikula dan Costa (dalam Murtanto, 2003) yang menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan etika. Murtanto dan Marini (2003) meneliti tentang persepsi etika bisnis dan etika profesi akuntan diantara akuntan pria, akuntan wanita, mahasiswa, dan mahasiswi dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara akuntan pria dan akuntan wanita terhadap etika bisnis dan etika profesi akuntan. Demikian juga untuk mahasiswa dan mahasiswi tidak ada perbedaan yang signifikan untuk etika profesi akuntan , namun untuk etika bisnis ada perbedaan persepsi antara mahasiswa dan mahasiswi Ludigdo, (1999) juga menemukan hal yang sama bahwa jenis kelamin tidak mempunyai pengaruh terhadap etika bisnis.

Machfoed (1999) menyatakan bahwa ada perbedaan persepsi tentang kode etik bisnis diantara kelompok akuntan. Sriwahjoeni (2000), dan Jaka (2003) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan persepsi yang signifikan diantara kelompok akuntan. Dalam penelitiannya juga mengunkapkan bahwa diantara kelompok profesi akuntan tersebut mempunyai persepsi yang sama positifnya terhadap kode etik. Penelitian Destriani (1993) mengenai persepsi akuntan publik terhadap kode etik akuntan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara kelompok akuntan publik terhadap kode etik akuntan.

Berdasarkan dari hasil tinjauan penelitian terdahulu maka hipotesis yang diajukan sdebagai berikut:

H1 :Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan pria dan akuntan wanita terhadap etika bisnis.

H2 : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan pria dan akuntan wanita terhadap etika profesi akuntan

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah akuntan pendidik, akuntan publik, akuntan pemerintah dan akuntan perusahaan di wilayah Kota Semarang. Teknik pengambilan sampel adalah proposive random sampling sehingga masing-masing kelompok profesi akuntan dijadikan sampel secara proporsional dan acak. Jumlah sampel yang diambil minimal 30 (Masri Singarimbun, 1995). Sekaran (1992) mengatakan jumlah sampel lebih besar dari 30 dan kurang dari 500 pada kebanyakan penelitian sudah terwakili dan jika sampel di bagi kedalam sub sampel maka setiap kategori diperlukan minimum 30 sampel. Sedangkan sampel pada penelitian ini mengambil sampel 30 pada masing-masing kelompok profesi.

Alat analisis Data

Untuk menguji Hipotesa digunakan alat statistik dengan bantuan program computer software SPSS 12.0 for windows sebagai berikut: Untuk menguji H1 dan H2 dilakukan dengan menggunakan alat analisis statistik Mann-Whitney U test karena sampel yang diuji terdiri dari dua kelompok yang saling independen (sampel akuntan pria dan akuntan wanita) dan bertujuan untuk mengetahui terdapat atau tidaknya perbedaan persepsi diantara kelompok sampel. Digunakan juga perhitungan rata-rata (mean) dari persepsi responden untuk masing-masing pertanyaan yang diajukan untuk mengetahui persepsi mana yang lebih baik diantara kelompok sampel yang diuji.

HASIL & PEMBAHASAN

Data Penelitian

Kuesioner disampaikan kepada staf pengajar pada perguruan tinggi baik perguruan tinggi negeri (PTN| maupun perguruan tinggi swasta (PTS) yang ada di wilayah Kota Semarang, Akuntan yang bekerja di kantor akuntan publik (KAP) yang telah memiliki pengalaman mengaudit dua tahun, Akuntan yang bekerja di badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) wilayah Semarang yang telah memiliki pengalaman mengaudit diatas dua tahun dan Akuntan yang bekerja diperusahaan yang telah memiliki pengalaman bekerja diatas dua tahun di wilayah Kota Semarang.

Rincian penyampaian dan pengembalian kuesioner menunjukkan tingkat pengembalian kuesioner keseluruhan (69,23%) dan tingkat pengembalian kuesioner yang dapat digunakan (46,15%).

Uji Kualitas Data

Uji reliabilitas dilakukan dengan menghitung cronbach’s alpha dari masing-masing instrumen dalam suatu variabel. Instrumen yang dipakai dalam variabel tersebut dikatakan andal (reliable) apabila memiliki cronbach’s alpha lebih dari 0,60 (Nunnaly, 1978 dalam andal (reliable) apabila memiliki cronbach’s alpha lebih dari 0,60 (Nunnaly, 1978 dalam Ghozali, 2005). Sedangkan pada pengujian validitas dengan uji homogenitas data dengan melakukan uji korelasional antara skor masing-masing butir dengan skor total (Pearson Correlation) harus menunjukkan korelasi yang positif dan signifikan pada level 0,01sampai dengan 0,05. Hasil pengujian reliabilitas dan validitas data dirangkum dalam tabel 5.4 berikut:

Slide1

Sumber: Data primer diolah, 2007


Tabel 2 menunjukkan tingkat konsistensi dan akurasi yang cukup baik. Pada uji konsistensi internal koefisien Cronbach’s Alpha menunjukkan tidak ada koefisien yang kurang dari nilai batas minimal 0,60 (Hair et al. 1998). Sedangkan pada pengujian validitas dengan uji homogenitas data dengan uji korelasional antara skor masing-masing item dengan skor total (Pearson Correlations) menunjukkan korelasi yang positif dan signifikan pada tingkat 0,01.

Sebelum data yang diperoleh diolah untuk dianalisis lebih lanjut, maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas. Dari tampilan uji K-S, nilai signifikansi masing-masing variabel diatas 0.05, artinya masing-masing variabel terdistribusi secara normal. Hasil uji lebih lanjut untuk persepsi terhadap etika bisnis dan etika profesi disajikan dalam tabel 3.

 Slide2

Berdasar hasil pengujian nomalitas pada tampilan tabel 3. diatas, nilai probabilitas untuk kedua variabel, yaitu variabel etika bisnis dan etika profesi masing-masing sebesar 0,753 dan 0,090. Nilai probabilitas tersebut diatas 0,050, hal ini berarti bahwa data variabel etika bisnis dan etika profesi terdistribusi secara normal.

Slide3

Uji Hipotesis I

Uji beda dilakukan dengan memperhatikan terpenuhinya asumsi kesamaan varians tiap variabel. Hasil Levene’s Test for Equality of Variances menunjukkan nilai F variabel Etika Bisnis sebesar 1,720 (sig.0,200) seperti yang tercantum dalam tabel 4 diatas. Signifikansi nilai F untuk variabel Etika Bisnis lebih besar dari 0,05 sehingga tidak signifikan yang berarti terdapat kesamaan varians tiap variabel.

Hasil uji beda dengan sampel secara independen terlihat pada tabel 5.6. Nilai t untuk tiap variabel pada signifikansi 5 % adalah etika bisnis 1,436 (0,162). Hasil ini menunjukkan bahwa rata-rata variabel etika bisnis tidak berbeda secara signifikan antara persepsi akuntan dengan jenis kelamin laki-laki maupun perempuan terhadap etika bisnis.

Untuk mengkorfirmasi analisis data, dapat dilakukan dengan melakukan pengujian Mann-Whitney U test. Hasil perhitungan hipotesis I menunjukkan bahwa dilihat secara keseluruhan angka yang terdapat pada kolom asymp.sig adalah 0,158 (diatas 0,05) yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan pria dan persepsi akuntan wanita terhadap etika bisnis seperti yang terdapat pada tabel 4 Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Murtanto dan Marini (2003) serta Ludigdo (1999) yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan antara persepsi akuntan pria dan akuntan wanita terhadap etika bisnis. Hasil penelitian dari Martadi dan Suranta (2006) juga menyimpulkan bahwa untuk masing-masing kelompok responden baik itu akuntan, mahasiswa, karyawan bagian akuntansi tidak terdapat perbedaan persepsi terhadap etika bisnis jika dipandang dari segi gender. Lebih jauh, Jamilah, Fanani dan Chandrarin (2007) menunjukkan pada hasil penelitiannya bahwa gender tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap pengambilan keputusan.

Uji Hipotesis Penelitian II

Hasil Levene’s Test for Equality of Variances menunjukkan nilai F variabel Etika Profesi sebesar 0,522 (sig.0,4760) bisa dilihat di tabel 4. Signifikansi nilai F untuk variabel Etika Profesi lebih besar dari 0,05 sehingga tidak signifikan yang berarti terdapat kesamaan varians tiap variabel.

Untuk mengkorfirmasi analisis data, dapat dilakukan dengan melakukan pengujian Mann-Whitney U test pada tabel 4. Hasil perhitungan hipotesis II menunjukkan bahwa dilihat secara keseluruhan angka yang terdapat pada kolom asymp.sig adalah 0,146 (diatas 0,05) yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan pria dan persepsi akuntan wanita terhadap etika profesi.

Hasil ini mendukung penelitian Martadi dan Suranta (2006) yang menyimpulkan bahwa untuk kelompok responden akuntan dan mahasiswa, tidak terdapat perbedaan persepsi terhadap etika profesi jika dipandang dari segi gender. Selain itu Nugrahaningsih (2005) juga menemukan hasil yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi etika profesi yang signifikan antara auditor pria dan auditor wanita. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh Murtanto dan Marini (2003) serta Ludigdo (1999). Meskipun wanita lebih etis daripada pria dalam memberikan persepsi terhadap situasi etika profesi (Reiss dan Mitra, 1998 dalam Nugrahaningsih, 2005), namun hal itu tidak mempunyai pengaruh kognitif dalam pemberian opini mengenai perilaku etis.

Temuan riset ini menunjukkan bahwa di antara responden laki-laki dan perempuan tidak terdapat perbedaan dalam hal persepsi terhadap etika, baik etika bisnis maupun etika profesi. Secara umum dapat disimpulkan bahwa temuan riset ini lebih mendukung pendekatan structural. Berbeda dengan pendekatan sosialisasi gender yang menyatakan bahwa perempuan cenderung tidak mau melakukan pekerjaan yang membahayakan pihak lain dan lebih cenderung menunjukkan perasaan yang kuat sehubungan masalah-masalah etis dibanding laki-laki, pendekatan struktural lebih menekankan bahwa individu akan bereaksi yang serupa terhadap permasalahan etika, tidak bergantung pada masalah gender (Betz et al, 1989 dalam Muthmainah, 2006).

Pendekatan struktural menyatakan bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan disebabkan oleh sosialisasi sebelumnya dan persyaratan peran lainnya. Sosialisasi sebelumnya dikuasai/dibentuk oleh penghargaan (reward) dan cost sehubungan peran jabatan. Karena pekerjaan membentuk perilaku melalui struktur reward, laki-laki dan perempuan akan memberi respon yang sama pada lingkungan jabatan yang sama. Jadi pendekatan struktural memprediksikan bahwa laki-laki dan perempuan yang mendapat pelatihan dan jabatan yang sama akan memberikan persepsi etika yang sama pula. Intinya bahwa pendekatan struktural menyatakan tidak ada perbedaan signifikan dalam perilaku etis antara perempuan dan laki-laki.

Kemampuan seseorang untuk memberikan persepsi tentang perilaku tidak etis biasanya dihubungkan dengan faktor-faktor yang berkaitan dengan lingkungan (misalnya lingkungan tempat bekerja, kultur, situasi) dan faktor lainnya yang berkaitan dengan individu itu sendiri (misalnya pengaruh keluarga, nilai-nilai religius, pengalaman, karakteristik demografis). Ada sedikit keraguan pada pernyataan bahwa atribut individual berhubungan dengan alasan moral dan kode etik, namun ada keyakinan bahwa faktor-faktor individual menjadi determinan yang powerful pada standar etika personal (Bommer et al., 1987; Trevino, 1986).

 Kesimpulan

Berdasarkan hasil uji Independent-Samples T Test dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara akuntan pria dengan akuntan wanita terhadap etika bisnis. Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 (sign 0,162). Tetapi terdapat kecenderungan bahwa akuntan wanita mempunyai persepsi terhadap etika bisnis cenderung lebih baik dibanding dengan akuntan pria. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ludigdo (1999) serta Murtanto dan Marini (2003) yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi antara akuntan pria dan akuntan wanita terhadap etika bisnis.

Berdasarkan hasil uji Independent-Samples T Test dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara akuntan pria dengan akuntan wanita terhadap etika profesi (sign 0,202). Tetapi terdapat kecenderungan bahwa akuntan wanita mempunyai persepsi terhadap etika profesi cenderung lebih baik dibanding dengan akuntan pria. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Martadi dan Suranta (2006) yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi antara akuntan pria dan akuntan wanita terhadap etika profesi.


Sumber jurnal : http://www.unissula.ac.id/images/jurnal/fe/no1/poniman.pdf


Tuesday, October 18, 2016

ETIKA BISNIS DAN ETIKA PROFESI AKUNTAN

(Business Ethics and Accountant Professional Ethics) 
Widaryanti *) 


Abstrak 

Belakangan ini etika profesi akuntan menjadi diskusi berkepanjangan di tengah­tengah  masyarakat. Menyadari hal demikian, etika menjadi kebutuhan penting bagi semua profesi. Etika  merupakan prinsip moral dan standar dalam berhubungan dengan sesama. Etika profesi termasuk  didalamnya standar kebiasaan yang dilakukan baik untuk tujuan praktik maupun tujuan idealistik.  Pelanggaran etika profesi akuntan di perusahaan memang banyak, tetapi upaya untuk menegakan  etik perlu digalakkan. Etika profesi tidak akan dilanggar jika ada aturan dan sangsi. Kalau semua  tingkah laku salah dibiarkan, lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Norma yang salah ini akan  menjadi budaya. Oleh karena itu bila ada yang melanggar aturan diberikan sangsi untuk memberi  pelajaran kepada yang bersangkutan. Hal lain yang juga mempengaruhi seseorang berperilaku etis  adalah lingkungan, yang salah satunya ialah lingkungan dunia pendidikan. Dunia pendidikan akuntansi  juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku etis akuntan, oleh sebab itu perlu diketahui  pemahaman calon akuntan (mahasiswa) terhadap masalah­masalah etika, dalam hal ini berupa  etika bisnis dan etika profesi akuntan yang mungkin telah atau akan mereka hadapi nantinya. 

Kata Kunci: Etika Bisnis, Etika Profesi Akuntan

1. Pendahuluan 
Kemajuan ekonomi suatu negara memacu perkembangan bisnis dan mendorong munculnya  pelaku bisnis baru sehingga menimbulkan persaingan yang cukup tajam di dalam dunia bisnis.  Hampir semua usaha bisnis bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar­besarnya (profit-making)agar dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku bisnis dan memperluas jaringan usahanya. Namun terkadang untuk mencapai tujuan itu segala upaya dan tindakan dilakukan walaupun pelaku bisnis harus melakukan tindakan­tindakan yang mengabaikan berbagai dimensi moral dan etika  dari bisnis itu sendiri.  Belakangan ini etika profesi akuntan menjadi diskusi berkepanjangan di tengah­tengah  masyarakat. Menyadari hal demikian, etika menjadi kebutuhan penting bagi semua profesi. Di Indonesia sendiri, pendidikan selama ini terlalu menekankan arti penting nilai akademik dan kecerdasan otak saja. Pengajaran integritas, kejujuran, komitmen dan keadilan diabaikan, sehingga terjadilah krisis multi dimensi seperti krisis ekonomi, krisis moral dan krisis kepercayaan.  Akhir­akhir ini, akuntan dituduh sebagai penyebab terjadinya krisis ekonomi. Lebih lanjut  dikatakan bahwa akuntan dianggap telah bertindak menyimpang dari peraturan yang ada dan tidak  berperilaku etis. Melanggar kepatutan. Hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya persaingan  membuat para akuntan bertindak menyimpang dari peraturan, undang­undang dan standar auditing.  Tetapi, dilema etika tidak dapat sepihak ditujukan terhadap anggaran dasar akuntan, melainkan  yang perlu dipertanyakan apakah para akuntan mampu menyelesaikan standar profesi yang  berkualitas tinggi dimana sejumlah faktor­faktor akan tergantung pada standar tersebut seperti  pendidikan, kesadaran akan perkembangan dll. Jika kepercayaan terhadap profesi mengalami tekanan  maka pengaruh signifikan dari keterlibatan etika budaya dalam organisasi sangat diperlukan.  Masalah etika profesi merupakan suatu isu yang selalu menarik untuk kepentingan riset.  Tanpa etika, profesi akuntan tidak akan ada karena fungsi akuntansi adalah penyedia informasi  untuk proses pembuatan keputusan bisnis oleh para pelaku bisnis. Para pelaku bisnis ini diharapkan  mempunyai integritas dan kompetensi yang tinggi (Abdullah dan Halim, 2002). Berbagai pelanggaran  etika telah banyak terjadi saat ini dan dilakukan oleh akuntan, misalnya berupa perekayasaan data  akuntansi untuk menunjukkan kinerja keuangan perusahaan agar terlihat lebih baik, ini merupakan  pelanggaran akuntan terhadap etika profesinya yang telah melanggar kode etik akuntan karena  akuntan telah memiliki seperangkat kode etik tersendiri yang disebut sebagai aturan tingkah laku  moral bagi akuntan dalam masyarakat.

2. Pembahasan
2.1. Pengertian Etika Bisnis  Etika merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran­ajaran dan  pandangan­pandangan moral (Suseno, 1987). Menurut kamus besar bahasa Indonesia (1995),  etika ialah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral  (akhlak). Bisnis dapat menjadi sebuah profesi etis apabila ditunjang oleh sistem politik ekonomi yang  kondusif (Keraf, 1998), yang berarti untuk menciptakan bisnis sebagai sebuah profesi yang etis  maka dibutuhkan prinsip-­prinsip etis untuk berbisnis yang baik yang merupakan suatu aturan hukum  yang mengatur kegiatan bisnis semua pihak secara fair dan baik disertai dengan sebuah sistem pemerintahan yang adil dan efektif dalam menegakkan aturan bisnis tersebut. Menurut Muslich  (1998), mendefinisikan bahwa etika bisnis sebagai pengetahuan mengenai tata cara yang ideal  dalam pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku  secara ekonomi/sosial, dimana penetapan norma dan moralitas ini dapat menunjang maksud dan  tujuan kegiatan bisnis.

Definisi etika bisnis menurutBusiness & Society ­ Ethics and Stakeholder Management(Caroll & Buchholtz):

Ethics is the discipline that deals with what is good and bad and with moral duty and  obligation. Ethics can also be regarded as a set of moral principles or values. Morality  is a doctrine or system of moral conduct. Moral conduct refers to that which relates to  principles of right and wrong in behavior. Business ethics, therefore, is concerned  with good and bad or right and wrong behavior that takes place within a business  context. Concepts of right and wrong are increasingly being interpreted today to include  the more difficult and subtle questions of fairness, justice, and equity.

Dari sumber yang lain, disebutkan:

Ethics is a philosophical term derived from the Greek word “ethos,” meaning character  or custom. This definition is germane to effective leadership in organizations in that it  connotes an organization code conveying moral integrity and consistent values in  service to the public.

(R. Sims, Ethics and Corporate Social Responsibility ­ Why Giants Fall, C.T.:Greenwood  Press, 2003) 

Etika bisnis sendiri terbagi dalam:

•  Normative ethics: Concerned with supplying and justifying a coherent moral system  of thinking and judging. Normative ethics seeks to uncover, develop, and justify  basic moral principles that are intended to guide behavior, actions, and decisions.
R. DeGeorge, Business Ethics, 5th ed. (Upper Saddle River, N.J.: Prentice­Hall, 2002) 

•  Descriptive ethics: Is concerned with describing, characterizing, and studying the  morality of a people, a culture, or a society. It also compares and contrasts different  moral codes, systems, practices, beliefs, and values.
R. A. Buchholtz and S. B. Rosenthal,Business Ethics(Upper Saddle River, N.J.: Prentice  Hall, 1998).  
Terdapat beberapa prinsip umum dalam etika bisnis (Keraf, 1998), yaitu :
1. Prinsip otonomi
2. Prinsip kejujuran
3. Prinsip keadilan
4. Prinsip saling menguntungkan (mutual benefit principle)
5. Prinsip integritas moral

2.2.  Pentingnya Etika Bisnis
Perilaku etis penting diperlukan untuk sukses jangka panjang dalam sebuah bisnis. Pentingnya  etika bisnis tersebut berlaku untuk kedua perspektif baik lingkup makro ataupun mikro. 

2.2.1.  Perspektif Makro
Pertumbuhan suatu negara tergantung pada market system yang berperan lebih efektif dan  efisien daripada command systemdalam mengalokasikan barang dan jasa. Beberapa kondisi yang  diperlukan market sysem untuk dapat efektif :
a. hak memiliki dan mengelola properti swasta
b. kebebasan memilih dalam perdagangan barang dan jasa
c. ketersediaan informasi yang akurat berkaitan dengan barang dan jasa 

Jika salah satu subsistem dalam market system melakukan perilaku yang tidak etis, maka  hal ini akan mempengaruhi keseimbangan sistem dan mengambat pertumbuhan sistem secara  makro.  Pengaruh dari perilaku tidak etis pada perspektif makro :
a. Penyogokan atau suap
Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya kebebasan memilih dengan cara mengubah kondisi  yang mendasari penfambilan keputusan.
b. Coercive act
Mengurangi kompetisi yang efektif antara pelaku bisnis dengan ancaman atau memaksa untuk  tidak berhubungan dengan pihak lain dalam bisnis.
c. Deceptive information (penipuan)
Merupakan tindakan memperdaya, menyesatkan yang disengaja dengan mengucapkan atau melakukan kebohongan.
d. Pecurian dan penggelapan
Merupakan tindakan mengambil sesuatu yang bukan hak kita atau mengambil property milik  orang lain tanpa persetujuan pemiliknya. Properti tersebut dapat berupa property fisik atau  konseptual.
e. Unfair discrimination
Merupakan perlakuan tidak adil atau penolakan terhadap orang­orang tertentu yang disebabkan  oleh ras, jenis kelamin, kewarganegaraan, atau agama…. Suatu kegagalan untuk  memperlakukan semua orang dengan sama (setara) tanpa adanya perbedaan yang beralasan  antara mereka yang ‘disukai’ dan tidak. 

2.2.2. Perspektif Mikro
Dalam lingkup ini perilaku etis identik dengan kepercayaan atautrust. Dalam lingkup mikro  terdapat rantai relasi dimana supplier, perusahaan, konsumen, karyawan saling berhubungan kegiatan  bisnis yang akan berpengaruh pada lingkup makro. Tiap mata rantai penting dampaknya untuk selalu menjaga etika sehingga kepercayaan yang mendasari hubungan bisnis dapat terjaga dengan  baik.

2.3.  Standar Moral
Standar moral merupakan tolok ukur etika bisnis. Dimensi etis merupakan dasar kajian  dalam pengambilan keputusan. Etika bisnis yang berfokus pada cenderung etika terapan daripada  etika normatif. Dua prinsip yang dapat digunakan sebagai acuan dimensi etis dalam pengambilan keputusan (Nofieiman, 2006) yaitu :
1. Prinsip Consequentialist
Konsep etika yang berfokus pada konsekuensi pengambilan keputusan. Artinya ialah keputusan dinilai etis atau tidak berdasarkan konsekuensi  (dampak) keputusan tersebut.
2. Prinsip Nonconsequentialist
Terdiri dari rangkaian peraturan yang digunakan sebagai petunjuk/panduan pengambilan  keputusan etis dan berdasarkan alasan bukan akibat (konsekuensi).
a. Prinsip Hak
Menjamin hak asasi manusia. Hak ini berhubungan dengan kewajiban untuk tidak  saling  melanggar hak orang lain.
b. Prinsip Keadilan  Keadilan biasanya terkait dengan isu hak, kejujuran,dan kesamaan. 

2.4.  Bukti Empiris
Sebuah studi selama 2 tahun yang dilakukan The Performance Group, sebuah konsorsium  yang terdiri dari Volvo, Unilever, Monsanto, Imperial Chemical Industries, Deutsche Bank, Electrolux, dan Gerling, menemukan bahwa pengembangan produk yang ramah lingkungan dan peningkatan environmental compliance bisa menaikkan EPS (earning per share) perusahaan, mendongkrak profitability, dan menjamin kemudahan dalam mendapatkan kontrak atau persetujuan investasi.
Di tahun 1999, jurnal Business and Society Review menulis bahwa 300 perusahaan besar  yang terbukti melakukan komitmen dengan publik yang berlandaskan pada kode etik akan  meningkatkan market value added sampai dua­tiga kali daripada perusahaan lain yang tidak  melakukan hal serupa.
Bukti lain, seperti riset yang dilakukan oleh DePaul University di tahun 1997, menemukan  bahwa perusahaan yang merumuskan komitmen korporat mereka dalam menjalankan prinsip­  prinsip etika memiliki kinerja finansial (berdasar penjualan tahunan/revenue) yang lebih bagus dari  perusahaan lain yang tidak melakukan hal serupa.
Riset empiris dalam rangka memahami masalah etika dalam lingkungan perusahaan sebagian  besar dilakukan dengan cara survei. Hasil riset tersebut sangat tergantung oleh pertanyaan dalam  kuesioner dan sampel pada riset tersebut. Secara garis besar, kajian dalam riset etika tersebut  adalah karakter pribadi, karakter perusahaan dan pengambilan keputusan.
a. Karakter Pribadi
Kajian karakter pribadi dibatasi pada nilai pribadi, tingkat perkembangan moral dan karakter demografi yang dipilih. Nilai pribadi sangat mempengaruhi perilaku etis.
b. Karakter Perusahaan
Riset etika bisnis sebagian besar berfokus pada beberapa hal yaitu iklim perusahaan, tujuan perusahaan dan investigasi stakeholder. Salah satu ukuran yang digunakan dalam mengevaluasi etika perusahaan adalah iklan. Pesan yang disampaikan melalui iklan mempunyai pengaruh signifikan terhadap nama baik perusahaan. Pemahaman iklim perusahaan juga dapat memberikan petunjuk mengenai perilaku individu yang sesuai untuk mencapai tujuan perusahaan. Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku etis adalah sebagai berikut :
1. Tekanan atasan terhadap karyawan yang menyangkut perintah melanggar aturan.
2. Pengaruh rekan kerja, atasan dan pasangan perkawinan.
3. Sistem informal dalam perusahaan.
4. Kondisi kritis perusahaan.

c.  Pengambilan Keputusan
Dimensi etika dipengaruhi oleh jenis masalah yang dihadapi oleh pengambil  keputusan,sebagai contoh adalah manajer pemasaran menghadapi permasalahan etika yang  berbeda dengan manajer operasional karena bidang yang dihadapi juga berbeda. Harvard  Business Reviewmemaparkan bahwa manajer pemasaran lebih berpeluang untuk melakukan  tindakan melanggar etika. Hasil riset Chonko dan Hunt menyatakan bahwa faktor utama  terjadinya masalah etika oleh manajer pemasaran adalah tuntutan untuk menyeimbangkan  target penjualan perusahaan dengan kebutuhan customer.
Kondisi yang diperlukan untuk memasukkan etika kedalam pengambilan keputusan, yaitu  (1) kultur organisasional harus mendukung pembuatan keputusan etis (2) manajer harus memiliki  alat (ethics tools) untuk melakukan evaluasi terhadap dimensi etika dari suatu keputusan.

2.5.  Etika Profesi Akuntan
Dalam etika profesi, sebuah profesi memiliki komitmen moral yang tinggi, yang biasanya dituangkan dalam bentuk aturan khusus yang menjadi pegangan bagi setiap orang yang mengemban  profesi yang bersangkutan. Aturan ini merupakan aturan main dalam menjalankan atau mengemban  profesi tersebut yang biasanya disebut sebagai kode etik yang harus dipenuhi dan ditaati oleh setiap  profesi. Menurut Chua dkk (1994) menyatakan bahwa etika profesional juga berkaitan dengan perilaku  moral yang lebih terbatas pada kekhasan pola etika yang diharapkan untuk profesi tertentu.
Setiap profesi yang memberikan pelayanan jasa pada masyarakat harus memiliki kode etik  yang merupakan seperangkat prinsip­prinsip moral dan mengatur tentang perilaku profesional (Agoes, 1996). Tanpa etika, profesi akuntan tidak akan ada karena fungsi akuntansi adalah penyedia informasi untuk proses pembuatan keputusan bisnis oleh para pelaku bisnis. Para pelaku bisnis ini diharapkan memiliki integritas dan kompetensi yang tinggi (Abdullah dan Halim, 2002). Pihak­pihak yang berkepentingan terhadap etika profesi adalah akuntan publik, penyedia informasi akuntansi dan mahasiswa akuntansi (Suhardjo dan Mardiasmo, 2002). Etika profesi merupakan karakteristik  suatu profesi yang membedakannya dengan profesi lain yang berfungsi untuk mengatur tingkah  laku para anggotanya (Boynton dan Kell, 1996).
Kode etik berkaitan dengan prinsip etika tertentu yang berlaku untuk suatu profesi, terdapat  empat prinsip di dalam etika profesi (Keraf, 1998) yaitu :
1. Prinsip tanggung jawab
2. Prinsip keadilan
3. Prinsip otonomi
4. Prinsip integritas moral

2.6.  Kode Etik sebagai Etika Profesi Akuntan
Etika profesi akuntan di Indonesia diatur dalam Kode Etik Akuntan Indonesia. Kode etik ini mengikat para anggota IAI dan dapat dipergunakan oleh akuntan lainnya yang bukan atau belum menjadi anggota IAI. Kode etik ialah norma perilaku yang mengatur hubungan antara akuntan dengan kliennya, antara akuntan dengan sejawat, dan antara profesi dengan masyarakat (Sriwahjoeni, 2000). Di dalam kode etik terdapat muatan­muatan etika, yang pada dasarnya bertujuan untuk melindungi kepentingan anggota dan kepentingan masyarakat yang menggunakan jasa profesi. Terdapat dua sasaran pokok dari kode etik ini yaitu, pertama, kode etik bermaksud melindungi masyarakat dari kemungkinan dirugikan oleh kelalaian baik secara sengaja ataupun tidak sengaja dari kaum profesional. Kedua, kode etik juga bertujuan melindungi keluhuran profesi tersebut dari perilaku­perilaku buruk orang­orang tertentu yang mengaku dirinya profesional (Keraf, 1998). Di Indonesia, penegakan kode etik dilaksanakan oleh sekurang­kurangnya enam unit organisasi, yaitu  : Kantor Akuntan Publik, Unit Peer Revier Kompartemen Akuntan Publik IAI, Departemen Keuangan RI dan BPKP. Selain keenam unit organisasi diatas, pengawasan terhadap kode etik juga dapat dilakukan sendiri oleh para anggota dan pimpinan KAP.
Dalam kongresnya tahun 1973, Ikatan Akuntan Indonesia untuk pertama kalinya menetapkan  kode etik bagi profesi akuntan Indonesia, yang kemudian disempurnakan dalam kongres IAI tahun  1981, 1986, 1994, 1998. Etika profesional yang dikeluarkan oleh IAI dalam kongresnya tahun 1998  diberi nama Kode Etik Akuntan Indonesia.
Kode Etik IAI dibagi menjadi empat bagian berikut ini : (1) Prinsip Etika, (2) Aturan Etika,  (3) Interpretasi Aturan Etika dan (4) Tanya Jawab. Aturan etika Kompartemen Akuntan Publik  terdiri dari :
100 Independensi, Integritas dan Obyektivitas
200 Standar Umum dan Prinsip Akuntansi
300 Tanggung Jawab kepada Klien
400 Tanggung Jawab kepada Rekan Seprofesi
500 Tanggung Jawab dan Praktik Lain

Untuk menback­up anggota dewan, selayaknya auditor dapat menjalankan etika audit dalam  realisasi anggaran oleh eksekutif. Dalam hal ini, ada tiga hal yang sangat urgent untuk dapat  memahami etika auditor secara profesional: (1) apa makna dan tujuan etika auditor menurut Norma  Profesional Akuntan Publik (SPAP), (2) rahasia auditor dalam perspektif kepentingan hukum, (3)  serta posisi auditor negara dalam liang praktek korupsi di lingkungan birokrasi Indonesia.
Bagi profesi auditor, Indonesia telah disuguhi konsep etika profesi yang menyentuh dari  Profesor Kell dkk dalam bukunya Modern Auditing yang telah diterbitkan berkali­kali. Ia menyatakan:  “Ethics consists of moral principles and standard of conduct. In general use the word ethics  relates to the philosophy of human conduct and principles of human morality and duty.  Professional ethics include standards of behaviour for a professional person that are  designed for both practical and idealistic purposes (Kell dkk 2003: 721).
Etika aditor yang dalam SPAP (1994) yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)  disebut sebagai norma akuntan menjadi patokan resmi para auditor Indonesia dalam berpraktek.  Konsep yang dikatakan oleh Kell dkk di atas juga mewarnai norma profesional para auditor Indonesia  dalam SPAP. Norma mana menjadi acuan dalam penentuan tiga standar utama dalam pekerjaan auditor kita. Di antara ketiga standar itu; pertama, auditor harus memiliki keahlian teknis, independen  dalam sikap mental serta kemahiran profesional dengan cermat dan seksama. Kedua, auditor juga  wajib menemukan ketidakberesan, kecurangan, manipulasi dalam suatu pengauditan.
Hal yang paling ditekankan dalam SPAP adalah betapa esensialnya kepentingan publik yang  harus dilindungi sifat independensi dan kejujuran seorang auditor dalam berprofesi. Namun, tidak  dapat diketahui dimana fungsi dan etika pengauditan yang secara teknik dapat mendeteksi jika ada penyelewengan pada sistem pemerintahan baik untuk penyusunan anggaran maupun aktivitas keuangan lainnya. Publik seakan dikelabui dengan berbagai informasi dari hasil audit yang selalu  wajar­wajar saja. Penyelewengan tidak menjadi halangan untuk tetap dianggap suatu kewajaran bagi auditor dengan jaminan sejumlah upeti dari pasien yang bersangkutan. Tanpa mengacu pada kode etik maka hal tersebut bukan merupakan sebuah malpraktek bagi auditor.
Melirik kode etik di dalam SPAP 1994: 2210.1, lebih menekankan sikap independen bagi  auditor publik (ekstern) yang memeriksa apakah suatu laporan keuangan badan usaha komersial  disusun berdasarkan Standar Akuntansi Indonesia dalam suatu audit yang bersifat umum sehingga  auditor negara (staf BPK). Dalam pengauditan laporan keuangan usaha komersial auditor  diharuskan bebas dari intervensi manajemen, pemilik, kreditur atas suatu entitas usaha dalam  menentukan opini auditor. Dia harus mewakili kepentingan publik (pemilik saham dan lain­lain)  secara seimbang dalam menilai kewajaran suatu laporan. Sikap independensi penting untuk  menopang profesionalisme auditor dalam suatu penugasan khusus seperti audit investigasi kegiatan  tertentu seperti dalam pengauditan dugaan korupsi. Keahlian teknis akan tak bermakna tanpa  independensi dan kejujuran.
Namun demikian jika kita lebih menyelami makna frase tersebut dalam konteks kepentingan  publik yang lebih luas, sikap dasar independensi dan kejujuran sebagai dua elemen yang tak  terpisahkan dalam SPAP bagi seorang auditor juga berlaku untuk staf BPK (auditor negara).  Profesionalisme dari kedua sikap tersebut sampai sekarang belum dapat terpenuhi dengan adanya  sikap ganda yang sensitif terhadap keberadaan rupiah atau dollar sebagai ucapan terimakasih atas  proyek yang dilakukan 

2.7.  Upaya Penegakan Etika
Pelanggaran etika profesi akuntan  di perusahaan memang banyak, tetapi upaya untuk menegakan etik perlu digalakkan. Misalkan, perusahaan tidak perlu berbuat curang untuk meraih kemenangan. Hubungan yang tidak transparan dapat menimbulkan hubungan istimewa atau kolusi dan memberikan peluang untuk korupsi.
Dari mana upaya penegakkan etika profesi akuntan dimulai? Etika profesi akuntan paling gampang diterapkan di perusahaan sendiri. Pemimpin perusahaan memulai langkah ini karena mereka menjadi panutan bagi karyawannya. Selain itu, etika bisnis harus dilaksanakan secara transparan. Pemimpin perusahaan seyogyanya bisa memisahkan perusahaan dengan milik sendiri. Dalam operasinya, perusahaan mengikuti aturan berdagang yang diatur oleh tata cara undang­undang.
Etika profesi akuntan tidak akan dilanggar jika ada aturan dan sangsi. Kalau semua tingkah laku salah dibiarkan, lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Repotnya, norma yang salah ini akan menjadi budaya. Oleh karena itu bila ada yang melanggar aturan diberikan sangsi untuk memberi pelajaran kepada yang bersangkutan.
Upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menegakkan budaya transparansi antara lain: 1. Penegakkan budaya berani bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya. Individu yang mempunyai kesalahan jangan bersembunyi di balik institusi. Untuk menyatakan kebenaran kadang dianggap melawan arus, tetapi sekarang harus ada keberanian baru untuk menyatakan pendapat.  2. Ukuran­ukuran yang dipakai untuk mengukur kinerja jelas. Bukan berdasarkan kedekatan dengan atasan, melainkan kinerja. 3. Pengelolaan sumber daya manusia harus baik. 4. Visi dan misi perusahaan jelas yang mencerminkan tingkah laku organisasi.
Hal lain yang juga mempengaruhi seseorang berperilaku etis adalah lingkungan, yang salah  satunya ialah lingkungan dunia pendidikan. Dunia pendidikan akuntansi juga mempunyai pengaruh  yang besar terhadap perilaku etis akuntan (Sudibyo, 1995), oleh sebab itu perlu diketahui pemahaman calon akuntan (mahasiswa) terhadap masalah­masalah etika, dalam hal ini berupa etika bisnis dan etika profesi akuntan yang mungkin telah atau akan mereka hadapi nantinya. Terdapatnya mata kuliah yang berisi ajaran moral dan etika sangat relevan untuk disampaikan kepada mahasiswa dan keberadaan pendidikan etika ini juga memiliki peranan penting dalam perkembangan profesi di bidang akuntansi di Indonesia. 

3. Simpulan
Berbagai pelanggaran etika telah banyak terjadi saat ini dan dilakukan oleh akuntan, misalnya  berupa perekayasaan data akuntansi untuk menunjukkan kinerja keuangan perusahaan agar terlihat  lebih baik, ini merupakan pelanggaran akuntan terhadap etika profesinya yang telah melanggar  kode etik akuntan karena akuntan telah memiliki seperangkat kode etik tersendiri yang disebut  sebagai aturan tingkah laku moral bagi akuntan dalam masyarakat.
Pelanggaran etika profesi akuntan di perusahaan memang banyak, tetapi upaya untuk  menegakan etik perlu digalakkan. Diantaranya (1) perusahaan tidak perlu berbuat curang untuk meraih kemenangan. Hubungan yang tidak transparan dapat menimbulkan hubungan istimewa  atau kolusi dan memberikan peluang untuk korupsi. (2) Etika profesi paling gampang diterapkan di  perusahaan sendiri. Pemimpin perusahaan memulai langkah ini karena mereka menjadi panutan  bagi karyawannya. (3) Dalam operasinya, perusahaan mengikuti aturan berdagang yang diatur  oleh tata cara undang­undang.  Etika profesi tidak akan dilanggar jika ada aturan dan sangsi. Kalau  semua tingkah laku salah dibiarkan, lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Norma yang salah ini  akan menjadi budaya. Oleh karena itu bila ada yang melanggar aturan diberikan sangsi untuk  memberi pelajaran kepada yang bersangkutan. Hal lain yang juga mempengaruhi seseorang  berperilaku etis adalah lingkungan, yang salah satunya ialah lingkungan dunia pendidikan. Dunia  pendidikan akuntansi juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku etis akuntan (Sudibyo,  1995), oleh sebab itu perlu diketahui pemahaman calon akuntan (mahasiswa) terhadap masalah­  masalah etika, dalam hal ini berupa etika bisnis dan etika profesi akuntan yang mungkin telah atau  akan mereka hadapi nantinya.

Daftar Pustaka :
Widaryanti. 2007. Etiks Bisnis dan Etika Profesi Akuntan dalam Fokus Ekonomi Vol.2 No.1. Juni
            2007 : 1-10. ISSN : 1907-6304.

Tuesday, April 19, 2016

TASK 5 (TOEFL)

1.      I want to visit three ….
a.      City
b.      Citys
c.       Cities
d.      Cityes
Answer: C. Cities
City is Countable Count. Because the Plural form of the word changed to Cities (add -es)

2.      How many ….. are they in the room?
a.      Mouse
b.      Mouses
c.       Mice
d.      Mices
Answer: C. Mice
Plural of Mouse is Mice.

3.      The food my mother cook always tastes …..
a.      Good
b.      Well
c.       Nice
d.      Sweet
Answer : A. Good
Because Tastes is Linking Verb to be followed by an adjective.

4.      That person is …… married  
a.      Too young to got
b.      Too young to get
c.       Too young to get
d.      To  get too young
Answer: B. Too Young To get
To Infinitive can have a pattern  too + Adjective + to infinite + Verb 1

5.      I wake up early in the morning …… the traffic jam
a.      Avoiding
b.      Avoid
c.       To avoid
d.      For avoid
Answer: C. To avoid
To Infinitive can be used to indicate the purpose.

6.      How about …. to my party?
a.      Come
b.      Came
c.       Comes
d.      Coming
Answer: D. Coming
About is Preposition followed by a verb. In Gerund should be changed to Verb + ing that turned into a noun form.

7.      Will they  …. ?
a.      Go
b.      Goes
c.       Gone
d.      Went
Answer: A. Go
Because in Modal Auxilary always followed by Verb 1
8.      I don’t like this book. Do you have …. book?
a.      Other
b.      Others
c.       Any
d.      Another
Answer: D. Another
Because Book means one, therefore the right answer is because Another use for the singular noun.

9.      There are two countries that border America. One is Canada. ……… is Mexico.
a.      Another
b.      The Other
c.       The Others
d.      Others
Answer: B. The other
             Because followed by singular (is)

10.  They swim every week, …. ?
a.      Isn’t they?
b.      Doesn’t they?
c.       Don’t they?
d.      aren’t they?
Answer: C. Don’t they
Due to the tag question to be they are do. they are supposed to do so.




1.      There are ten buffaloes, Three wolfes, and five oxen in the field
    A                    B                       C                                   D

Answer: C. Wolfes
Plural shape of wolf is wolves

2.      We want to eat the food soon since it really tastes deliciously
               A                                 B         C                D

Answer: D. Tastes deliciously
Because Tastes is Linking Verb is to be followed by an adjective. Tastes delicious it should be.

3.      Some animals in the zoo, like cendrawasih, peacock, are beautiful colored
               A           B           C                                                    D

Answer: D. Beautiful
In Adverb should be converted into Beautifuly to explain Colored.

4.      Because that apple are sweet, can I have others?
    A             B                           C       D

Answer: B. That apple
because there is a statement that explains the plural form of the apple That should turn into Those apples.

5.      Because I live in another city, I can only see my parent every other weeks.
              A                                          B                             C                  D     

Answer: D. Weeks
because there are Other stating that the sentence in the plural form should be accompanied by Week .

6.      The weather’s changing slowly in many countries in Asia, is it?
  A                         B                                      C                       D

Answer: D. is it?

isn’t it supposed to be a sentence because statements in positive form .

7.      If I am not mistaken, you spent your holiday in Semarang, don’t you?
A                    B                                  C                                   D

Answer: D. Don’t you?
because statements in the negative form so should his Tag Question in positive form.

8.      A blue whale is larger from an elephant
     A               B             C             D

Answer: C. from
for comparing two adjectives that should have used the word Than.

9.      This pen and that pen are like.
   A                         B    C    D

Answer: D. like
It should be alike because it goes after the comparison of two objects.

10.  Viruses are the smaller than bacteria, and they can’t make proteins by themselves.
     A                   B                                       C                                                D

Answer:  B. the smaller
because here only to compare two things that viruses and bacteria that are supposed to use smaller than .